Friday, May 17, 2019

Mustafa dan obsesinya

Seingat gw sejak umur setahunan Tafa tuh udah obsesi berat sama yang namanya kereta.

Waktu umur itu kita beliin dia mainan Thomas abal-abal dipasar gembrong plus relnya. Makin kesini setiap benda yang berbentuk panjang lurus dianggap dia kereta, ya portal jalanan lah, garis pembatas pinggir jalan, sampe jemuran aja sama dia dikekerin sambil ngayal.

Gw sampe mikir, anak gw ada kelainan apa gimana ya?

Obsesi kereta ini sempat ada selingannya yaitu pesawat. Jadi siklusnya ya Kereta - Pesawat - Kereta gitu aja ganti2. Kadang juga ada short term selingan kaya hot wheels, kpop atau yang paling absurd tahun kemarin dia obsesi ama ikan hahaha....

Dia maksa-maksa kita beli aquarium dirumah, yang ujung-ujungnya cuma dibeliin aquarium kecil bentuk pot aja, males malihh bersihinnya kan mesti rutin. Sangking terobsesinya, saban hari kalo jamnya main hape dia kalo ga browsing soal ikan atau ga liat yutub video perikanan, terabsurd lagi yg dia obsesiin adalah ikan sapu-sapu :))))...the most unwanted ikan maybe hahaha...anakku satu itu emang suka antimainstream. 

Hamdalah periode ikan terlewati, dan sekarang dia balik maning ke perkeretaan. Tapi lebih spesifik ke KAI (cinta produk indonesia kaliii anakku ini). Semua nama kereta Indonesia dia hapal, sampe ada lagunya pula di yutub. Saban ke Jakarta, kerjanya minta mangkal di flyover klender biar bisa liatin kereta lewat trus di rekam dan diupload ke yutub. Tidak lupa rajin menabung buat beli miniatur KAI yang kualitasnya lumayan bagus. Game-game hape semua dicuekin kecuali game simulator kereta. Kalo waktu senggang, dia kerjanya gambar kereta beserta logo KAI nya, digunting trus ditempelin dikamarnya.

POKOKNYA CINTA MATI ABIS DIA SAMA KAI.

Cita-citanya? tentu saja jadi masinis.

Gw ga tau apa obsesi ini akan berlanjut sampe gede apa ga?. I don't mind actually kalo dia sangat fokus ke hal yang dia sukai. Mungkin kalo lebih gede gw akan arahin kalo yg berurusan dengan kereta itu ga cuma masinis, ada engineer, ada consultant etc...apapun itu nak, as far as that's what makes you happy and it's a good thing, then feel free to reach whatever dream or obsession you have.


Baby number 3?

Kayaknya sekarang ini lingkungan sekitaran gw lagi pada musim anak ke-3.

Pertemanan SMA, Kuliah, ex temen kantor, lagi banyak banget yg hamil or punya newborn.

Si manusia labil ini pun pertahanannya agak goyah, hamil lagi apa yaaa???

Udah perbincangan berbulan-bulan yang lalu sama suami, koq kangen yaa punya bayi, kangen baunya, kangen ketidakberdayaannya (coz believe me buibu, buat yg belum ngerasain punya anak pre-abg, it doesn't get any easier than you thought), kangen gemes2in deh pokoknya.

Selama ini pertimbangan gw merasa cukup dengan dua anak saja karena :

  • Yang pasti kerempongannya, dua anak aja udah mau gila kadang2 gimana mau nambah lagi. If you guys saying "loh kan kalian berdua kerja dari rumah?" justru karena kami berdua kerja dari rumah ini yg bikin otak gampang mendidih. Email teriak2 minta dibales, anak teriak2 minta di cebokin!!!
  • Gw ngerasa hubungan gw dengan sodara2 kandung gw ga begitu akrab, karena kita ga tinggal bareng juga sejak mereka kecil, gw ga pengen hal itu terjadi ke Tafa dan Diandra, gw pengen mereka akrab kaya temenan sampe mereka gede, ngeliat sekarang sih (terlepas dari mereka berantem tiap menit) so far mereka sangat akrab dan sayang2an, gw mikir kalo ada adeknya apa mereka akan tetap seperti itu atau nanti ada kecendrungan siapa lebih dekat dengan siapa?
  • Diandra itu kolokannya ampun2an, sampe sekarang dia masih nganggap dirinya bayi (padahal 2 bulan lagi mau TK doih), masih ngedot, masih pegang nenen kalo mau tidur. Ada rasa ga tega dihati gw kalo harus menggeser kedudukan dia sebagai anak bungsu dengan adek baru. 
  • Gw dan suami punya cita2 travelling berdua. Pengen ke Australia atau ke Eropa, menjelajah tempat2 yang ga kids friendly berdua. Pigimana caranya kalo punya anak lagi, masa nunggu sampe usia pensiun?
and sooo many other things.

So, baby number 3? errrghhhhh.....I don't think so but I really don't mind if God gives us more :D

Sunday, July 8, 2018

Random lonely thought

(Tulisan nanggung Geje pas lagi ga bisa tidur...mau diapus sayang udah cape2 di ketik - pake hp pula ngetiknya - yasudlah kita post aja)

It's 3 am on Holy Ramadhan month. My Alam will be ringing in the next 20 minutes and here I'm typing a post on my abandoned blog using my phone.

I know the consequences. Tomorrow (or shall I say today) will be a crazy one. I will be a cranky mom coz I don't get enough sleep. First I have to cook for Sahur and then wake up everyone, wait till Shubuh and then if I get lucky I can get 1-hour sleep in between Shubuh and preparing Mustafa's to school. 9am I need to sit in front of my laptop and start to work while doing household chores in between.

I know I'm making a bad choice by staying awake up until this now watching YouTube, rolling my eyes on Instagram stories and playing candy crush.  But yeah I didn't do this very often so let's just pray I will survive for another day.

This has just happened exactly hours ago, my friend posted a photo of him buying stacks of frozen foods with a good price deal and I send him a very judgemental comments saying that's not healthy. He then attacked me back by saying he's fine with his life and I might need to concern on my own life (sort of). I feel really offended because my first intention was showing that I care about him. But yeah that's just a thing about internet communications these days, that people can be misunderstood you, just because what you type might read with a different tone that leads to different meaning.

People said that as we grow older our circle becomes smaller. That's probably true, but in my case now that I work from home and have a very minimum social interaction, I probably have zero friendships circle. I don't count WhatsApp group as a friendship circle because I have tons of group and I don't really communicate in real life with 99% of them.

I kept in touch with my college besties but we only saw each other one time a year at best even though we live in the same city.

I lately hang out a lot with my high school friends, just because we just had a big reunion this year and I was a part of the committee and now I feel we've seen each other enough this year and I just couldn't go through Jakarta's traffic madness to meet them anymore.

Don't get me wrong, I really want to have a good friend, other than my husband and my kids, but it gets harder to find someone who you can really connect with. Me and my husband use to make a joke about this that we so desperately need friends and we could go to a coffee shop, eavesdropping couples of people hanging out just so we feel that we're hanging out with them...poor us haha...

Friday, November 24, 2017

4 L, Lo Lagi Lo Lagi

Dulu, gw dan suami pernah kerja sekantor. Lumayan lama sekitar 3 tahun.

Waktu masih pacaran sih asik-asik ajah, mayan ada tebengan pulang pergi.

Tapi pas udah merit, errr....it doesn't seems like a good idea.

Kantor sih ga ada larangan nikah sama sesama karyawan. Tapii rasanya jengah aja. Super awkward. Kalo papasan kaya orang ga kenal, sebisa mungkin menghindari makan di meja yang sama di pantry, dan kalo ga urgent-urgent banget ga usah nyamperin ke mejanya. Sekantor juga udah tau dari awal kalo kita pacaran, mungkin waktu itu kita ga suka aja di cie-cie in jadi sebisa mungkin menghindari momen yg akan bikin orang kantor iseng ngledekin.

Waktu akhirnya dia diterima kerja di kantor lain, rasanya senang luar biasa, akhirnya kami bisa punya kehidupan (profesional) sendiri-sendiri. Walopun awal-awal gw lumayan bete juga karena mau ga mau merasakan kejamnya kehidupan transportasi umum jakarta pulang-pergi kantor sendiri. Sebagai wanita manjaah nan malas ya mayan tersiksa sis. Jaman belum ada ojek online dan jalur busway terbatas. Metromini, bus, bajaj, kopaja, you name it!

Fast forward ke tahun 2015, tahun yang kalau boleh dibilang 'Sengsara membawa nikmat'. Momentum game changer yang kami gak sangka sangka. Suami dicut dari kantor. Iseng ikutan kontes2 di 99design, yang kemudian keterusan sampe sekarang jadi mata pencaharian dia.

Yup, we both now working from home couple.

We officially reach the top level of 4L (Lo Lagi Lo Lagi).

Gimana ga top level? asli 24 jam gw kudu ngeliat muka doi.

Bosan? oh jangan ditanya lagi.

Does that make us don't love each other anymore, not really.

When you reach that level of comfort with your partner, no matter what happened it shouldn't change the way you feel about them. Dari awal gw ngerasa alasan gw nikah sama suami gw itu bukan karena cinta yang membara-bara. Butterfly in the stomach? apaan tuh? rasaan gw deg-degan ketemu dia pas masih jaman LDR aja. But i choose him because he makes me feel comfort - unless when he's super cranky - because he has the temper of grumpy old man. He's more than a husband, he's my best friend - Literally, because i have no friends right now.

Gw suka bingung sama orang-orang yang suka curhat masalah rumah tangganya sama orang lain. Kenapa harus cerita ke orang lain kalau bisa diomongin langsung aja ke pasangan masing-masing?. Curhat ke orang lain bisa jadi ga menghasilkan solusi, bahkan berpotensi masalah klo yang dicurhatin itu lawan jenis. Buat gw sesebel-sebelnya gw sama laki gw, kalo ada masalah pasti gw selalu berusaha ngomongin ke yang bersangkutan langsung, berantem-berantem deh kita. Balik lagi ke masalah bosan diatas, so far beberapa hal yang gw dan suami lakukan adalah :

  • Ga pernah ngebatesin kegiatan satu sama lain.
Dia mau ikutan komunitas ina itu, nongkrong sama bapak-bapak komplek, ngobrol sama ciwi-ciwi ex temen kerjanya, gw sama sekali ga pernah ngelarang. Selama tanggung jawab dia dirumah ga ditinggalin. Trus apakah gw terlalu woles? ga takut laki dicolek pelakor?...oh tentu saya harus tetap waspada. henpon tetep rutin gw cek, message fb kalo iseng aja gw suka buka-bukain hahaha. Yes, i know all his passwords. Intinya, santai tapi ga kebablasan aja gt lah.
  • Respect each other space
Semua orang kadang butuh ruang sendiri. Entah lagi marah, mumet, atau emang lagi pengen sendiri aja. Laki gw adalah manusia malam (literally), karena jam kerja doski emang malam hari. Di jam-jam itu gw berusaha sebisa mungkin ga ganggu dia. Bahkan kalo kita lagi kerja diluar, dia suka duduk sendiri di smoking room dan gw ga pernah masalah sama itu. Contoh lain kalo ke Mall, kita suka jalan sendiri-sendiri. Dia hunting maenan ke toko mainan, sementara gw yaaaa apalagi kalo bukan cuci mata liat baju/sepatu/makeup. Selain lebih efisien secara waktu, rasanya lebih bebas aja. Ga ada yg melototin gw belanja hahahaha ga deeeng...i think we both know we're responsible buyer, ga yang impulsive2 (banget).
  • Create some momentum outside the routines
Kalo biasanya kami ke coffee shop sambil kerja. Kadang-kadang kalo anak-anak lagi jatah weekend dirumah eyangnya, kami keluar nongkrong ke coffee shop ga bawa laptop. Duduk-duduk aja ngobrol santai sambil liatin orang-orang. Impiannya sih pengen pergi liburan berdua tapi ntah kapan kesampaian karena selalu ga tega ninggalin dua manusia kepala acem itu.

My marriage is not perfect, nor as everyone else. Kalau mengutip lagunya Pink yang judulnya true love :

Sometimes I hate every single stupid word you say
Sometimes I wanna slap you in your whole face
There's no one quite like you
You push all my buttons down
I know life would suck without you

At the same time, I wanna hug you
I wanna wrap my hands around your neck
You're an asshole but I love you
And you make me so mad I ask myself
Why I'm still here, or where could I go
You're the only love I've ever known
But I hate you, I really hate you
So much, I think it must be True love

I am not quite sure is what's the meaning of true love but at the end of the day marriage is about commitment, right? I'm happy with what we have now and hopefully he is too.

Sunday, November 12, 2017

Pushing the limits

This is like the 4th post that ended up on my draft for months.

But as the title stated, i will push my limit to post something on this blog, after months. Rekor nih kayaknya, tahun ini cuman nulis 4 post? c'mon ra!.

Writing a blog for me it's kinda therapy. Writing down ideas, and make sure my ability to write 'something' is still there.

So many ups and down happening lately. Life, right?

I've disengage with world out there, the downside of working from home. Antisosial bgt nih sis. The worst part is i think i'm too much enjoying this situation. I don't have to listen any bull-crap from people. Bahkan bersosialisasi dengan tetangga dan ibu2 sekolahnya Tafa pun aku malas. Wondering if something wrong with me?

Teman bergaul ku hanya suami dan anak-anak, and my colleague who lives thousand miles apart and always wanted to do a weekly catchups where we could talk about anything, including how she thinks my hair looks good on video call. People might think this is sad, but it's not really.

We consumed with so many information these days, probably way too many. Like i could watch celebrities eating or doing something on their instagram stories yang ga ada manfaatnya sama sekali. Ga perlu jauh2 ketemuan sama temen, karena semua kegiatan mereka, yang terjadi dalam kehidupan mereka terekam di sosmed. Ga perlu nonton berita di TV, tinggal buka newsfeed FB aja paling udah banyak yg share. Sangking banyaknya informasi yang kudu kita cerna sehari-hari sampe rasanya capek sendiri, dan ngerasa kudu 'mengasingkan' diri biar waras dikit.

Wondering what would happen when our kids growing up right?.
Jangan-jangan kita nanti akan seperti di film E, manusia semua jadi obese, karena kerjanya cuma tidur makan, sambil ngontrol kehidupan lewat layar. I feel that we almost close to that. Scary!

Dark amat nih post nya mbaknya!

Anyway, siapa disini sebel banget sama Taylor Swift, angkat tangan!!!
I used to be taytay fans but now..it's like ...helloooo dunia ga berputar disekitar lo aja kalik!

Random abis gw, now mission accomplished, i will finally post this one!

Monday, September 11, 2017

New Normal Life

We couldn't be more happier with our decision to move to this city. We looooveee it here..(so far).
Fresh air, less traffic and everything just seems a lot more 'Zen' than living in Jakarta.

The most challenging thing is to set up our new schedule between works, kiddos and home.

*lap kringet*
*eh lupa di bogor ga pernah keringetan*
*sombooong hahaha*

Pengaturan jadwal kerja antara gw dan suami sih udah jelas. Gw kerja pagi-sore, dan dia malem-dini hari. Kalo jam gw kerja dia yg ngurusin anak, jam dia kerja gw sebaliknya. Tapi ada printilan2 yg suami gw paling ga bisa ngerjain contoh ; nyuapin anak - krn dia org nya ga sabaran, beres2 rumah - ini mah mustahil aja ya secara dia manusia paling berantakan yg gw pernah kenal, de el el de es be, yang otomatis bikin gw lumayan stress juggling between works, home, and kids.

Ada hari2 dimana semua berjalan sesuai yang diinginkan, baca; rumah bersih, anak2 ga rewel, kerjaan kantor beres tepat waktu dan ada hari-hari yang bikin senewen ; Anak2 lagi BM (banyak mau), Si suami kurang tidur rewel, rumah berantakan, kerjaan numpuk etc...kadang gw sama sekali ga bangga sama diri sendiri kalau gw membiarkan diri terbawa emosi.

Dua minggu sekali pas weekend adalah jadwalnya anak-anak kerumah Eyang di Jakarta. Biasanya sih either kita yg nganter ke Jakarta atau dijemput eyangnya, yang jelas ini adalah waktu yang sangat2 dinantikan coz akhirnya gw bisa napaaas hahaha *tiup confetti. Bisa leyeh2, bisa yutuban sampe tengah malam, dan bisa kencan  #kidsfree sama suami...

2-3 kali seminggu kita kerja diluar rumah, biar ga bosan, biasanya kita akan seharian kerja dari coffee shop yang mana disini banyaak sekali pilihan coffee shop yg enak, wifi nya kenceng dengan harga yg lumayan murah dari Jakarta.

What's not lo love about Bogor, tentu saja angkotnya yg suka rese luar biasa. Walopun karakter org bogor sih ga sekasar dan keras di Jakarta. Dan hujan-hujan kecil rese yg bikin emak-emak panik angkat jemuran trus udah diangkat eeeeh ujannya berenti hahaha...ini ga sekali dua kali kejadian loh, sehari kadang bisa 2-3 kali!

Other than that,we feel so blessed and couldn't be more grateful!



Tuesday, June 27, 2017

Menjadi warga Bogor!

Gw pernah posting sebelumnya kalau gw sama suami emang punya niatan untuk keluar dari Jakarta.
To be honest, we're just too tired living in this city, Jakarta dengan segala dinamika dan kompleksibilitasnya. Apalagi status kami berdua sudah bukan pegawai kantoran lagi, jadi rasanya ga masalah kami bisa tinggal di belahan indonesia manapun selama ada koneksi internet yang reliable.

Waktu ide itu muncul, kami mempertimbangkan beberapa kota, Makassar - karena itu kampung halaman gw, Solo - Kampung halaman suami, dan Bandung- karena kami emang cinta aja sama Bandung hahaha...

Setelah mempertimbangkan pro and cons dari masing-masing opsi, Makassar akhirnya kami coret (ga usah dijelasin ye alasannya). Pilihan pun mengerucut ke Bandung dan Solo. Kami pun sepakat untuk survey2 dulu ke 2 tempat tersebut.

Survey ke Bandung pastinya ga masalah dong ya, wong cuma dua jam an dari Jakarta. Yang agak bikin mikir sedikit adalah survey ke Solo karena lumayan juga biayanya. Tapi setelah beberapa bulan ngumpulin duit akhirnya ancang2 deh mau beli tiket kereta. 

Di luar dugaan pas nyampein ide ini ke Mertua, dengan terang2an sekeluarga ga setuju kami pindah ke solo. Alasannya ya jauh, disana udah ga banyak sodara (rata2 udah pindah ke Jakarta) dan berbagai alasan lain. Galau dong yaa..untungnya tiket belum kebeli. Mikir2 lagi, alasan dari keluarga in laws gw emang banyak benernya juga. Ga mau kualat kalo nekat pindah tanpa restu ortu.

Pilihan tinggal satu dong ya, ke Bandung. untuk opsi ini kami memutuskan ga usah ngomong2 dulu, ntar aja kalo udah fixed banget. Akhirnya mulai nanya-nanya dan browsing biaya ngontrak rumah, nyari sekolah dll. Kebetulan bulan April emang ada libur beberapa hari paskah. Jadi kami mau survey langsung apartemen yang mau di sewa. Udah pinjem kunci pula ke temen yang tinggal disitu, mau nebeng di flat dia, karena dia lagi liburan ke LN.

Sehari sebelum pergi kebandung, ngobrol sama Kakak ipar, dia nanya "emang ga mau ya tinggal di pinggiran Jakarta aja, ke cibinong, citayem atau sawangan?, ini temen aku share di FB ada perumahan di cibinong nih, DP nya murah, trus kompleksnya bagus banget asri. Atas nama sopan santun pun gw mengiyakan aja, "aku di share aja mba, nanti aku liat2". Padahal dalem hati mah ga tertarik, dan udah terlanjur kepincut sama angan-angan jadi warga bandung. 

Malemnya buka-buka link yg di share sama kaka ipar, hmmm koq tempatnya boljug juga ya, DP nya bisa dicicil pula, kalo dipaksain sih kayaknya masuk budget. Lokasinya juga oke, deket tol. Mengingat kata bokap kalo mau beli rumah emang harus agak maksain, kalo ga gt ga bakalan beli2, akhirnya dadakan ganti plan, besok survey deh ke cibinong. Waktu itu gw mikir at least gw udah ngikutin saran keluarga in laws gw untuk nyari yang terdekat dari Jakarta dulu. Jadi pas gw pindah ke bandung kan tinggal alesan kalo ga nemu yg pas. Pokoknya mah hatiku tetep teguh mau kebandung.

Out of expectation rumah yang di cibinong itu tenyata bikin kita jatuh cinta. Lokasinya strategis banget, deket sama exit tol dan dalem perumahannya asri banget. Suami gw langsung, yukk paksain aja beli disini....eaaaaa...mulai goyah.

Ga mau cuma punya satu opsi, besokannya gw mulai gerilya browsing lokasi lain, waktu itu akhirnya bikin janjian sama marketing buat survey di Sawangan dan Dramaga Bogor. Di sawangan, suami gw udah asem banget mukanya soalnya aksesnya maceet gila2an dan jalanannya kecil. Batin udah fixed banget nih ke cibinong, mulai males nanggepin janjian yang ke dramaga bogor. Tapi berhubung si marketingnya rada2 agresif, jadi pas weekend kita samperin aja deh, dan emang akhirnya bikin ilfil juga karena lokasinya jauuuuuh, macet pula, dan unit yg ready stocknya udah abis. 

Ngobrol punya ngobrol sama si Marketing, dia akhirnya nawarin perumahan lain, masih dibogor, lokasinya di Katulampa, harganya lumayan jauh dibawah rumah di cibinong, dan lebih deket ke pusat kota Bogor. At this point kami udah males-malesan, tapi for the sake of having an option akhirnya meluncur deh liat kesana sekalian. Masuk ke area menuju perumahan kami langsung hepi karena banyak tempat jajan, dan yang terpenting ada beberapa coffee shop yg dari luar koq keliatan lutjuuu...Alesan cetek bgt, i know!

Dan pas liat rumahnya juga memang ga jauh dari kota plus tempatnya adem, dan deket tol (penting karena kami masih bakalan sering bolak balik nengokin mama di jakarta). Opsi cibinong pun mulai goyah.

Singkat kata, karena kami berdua adalah pasangan yang ga suka kelamaan mikir, dan setelah mempertimbangkan hal-hal penting seperti lingkungan, harga, akses dan faktor investasi (tsah)  dan hal-hal ga penting tapi krusial seperti banyaknya jajanan dan coffee shop hipster (teteup), hari itupun kami transfer booking fee untuk rumah di katulampa.

Gw dan suami sampe agak ga percaya sama keputusan yang sedikit impulsif ini!

Sebagai orang yg memegang teguh filsafat dari The Alchemist "And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.” dan semua proses yang dilalui koq yaa entah kenapa jadi berasa dimudahkan sama Allah. 

So at the end of this story, we're happy to say that we're officially leaving Jakarta next week, and Mustafa will be learning Sundanese language at school. Salim Kang Arya Bima.

Bogor will be truly our home sweet home.


x

Mustafa dan obsesinya

Seingat gw sejak umur setahunan Tafa tuh udah obsesi berat sama yang namanya kereta. Waktu umur itu kita beliin dia mainan Thomas abal-ab...